Gampong Lamnga terletak dipesisir selat malaka Kemukiman Lamnga Kecamatan Mesjid Raya Kabupaten Aceh Besar dan merupakan salah satu Gampong dari lima Gampong yang ada dalam Kemukiman Lamnga dari tiga belas Gampong di Kecamatan Mesjid Raya Kabupaten Aceh Besar yang terbagi dalam dua Kemukiman yaitu Kemukiman Lamnga dan Kemukiman Krueng Raya. Menurut para sesepuh nama Gampong Lamnga pada awalnya diambil dari nama sebatang pohon besar dan tinggi yang tumbuh tepatnya di dusun dibakme, pohon tersebut diberi nama NGA yang tumbuh rindang, oleh sebab itu orang tua gampong zaman dulu lebih kurang tahun 1928 menambalkannya menjadi nama gampong, yaitu Lamnga. Gampong lamnga merupakan salah satu gampong tertua di Kabupaten Aceh Besar dan bahkan sebagian orang tua Gampong meyakini bahwa Gampong lamnga telah ada pada masa kesultanan Aceh yang dipimpin oleh Sultan Muhammad Syah Pada tahun 1823- 1838 berkuasa hingga tahun tersebut dan Sultan Ali Iskandar Syah tahun 1838-1857, di gampong lamnga pernah lahir seorang Pejuang kemerdekaan yaitu, Panglima T. Nyak Makam yang lahir pada tahun 1838 dan meninggal dunia tahun 1869 dalam melawan penjajahan belanda dimasa itu Panglima T.Nyak Makam menjadi orang paling dicari oleh serdadu belanda saat itu, sejarah telah mencatat perjuangan Panglima T. Nyak Makam dalam beberapa artikel ditulis oleh para peneliti sejarah beliau meninggal karena dipancung kepalanya oleh belanda dan diarak keliling Kuta Raja saat itu yaitu Banda Aceh saat ini. Menurut riwayat dari orang tua yang penyusun peroleh secara lisan bahwa Gampong lamngha sebelum berdiri sendiri menjadi Gampong sekitar tahun 1826 masih bergabung di bawah satu Hulubalang karena disaat itu belum ada Petua- petua yang ditunjuk secara resmi begitu pula dengan gampong-gampong lainnya pada umumnya di Aceh, juga karena faktor jumlah penduduk yang belum mencukupi untuk di bentuknya sebuah Gampong yang berdiri sendiri. Beberapa tahun kemudian setelah perkembangan penduduk mulai bertambah maka oleh beberapa orang cerdik pandai mulai timbul ide dan keinginan untuk membentuk sebuah Gampong yang definitif dan di pimpin oleh seorang Petua atau Keuchik, dalam sejarahnya masyarakat gampong lamnga dulunya bermukim atau pemukiman penduduk berada disebelah barat gampong yaitu tepatnya di lamcabeung sekerang sedangkan pemukiman sekarang ini masih berupa semak semak yang ditumbuhi bernagai pohon dijadikan sebagai tempat pertahanan dan kuburan saat melawan belanda. Akhirnya karena kondisi di lamcabeung tidak memungkikan karena sering terendam air pasang penduduk berinisiatif untuk mencari tempat yang lebih tinggi dan sekarang dapat dilihat dengan banyaknya kuburan disana-sini.
Pada saat musibah Tsunami tahun 2004 silam gampong lamnga salah satu gampong yang paling berdampak akibat bencana gelombang Tsunami, dampak kerusakan yang ditimbulkan dari bencana tersebut adalah berubahnya tata ruang gampong dari kondisi awal sebelum terjadi bencana gelombang Tsunami, kondisi ini secara langsung juga telah merusak aspek perekonomian masyarakat gampong lamnga. Berbagai Negara dan NGO/LSM datang membantu memulihkan kondisi aceh tak terkecuali gampong lamnga Khususnya dan seluruh gampong di aceh pada umumnya yang terkena musibah gelombang Tsunami. atas bantuan tersebut secara bertahap dan mandiri gampong lamnga sebisa mungkin membenah kembali sektor perekonomian dengan berswadaya masyarakat dan pada tahun 2015 kebijakan pemerintah pusat melalui anggaran APBN memberikan bantuan Dana Desa hingga sekarang ini, gampong lamnga dan umumnya gampong yang terdampak bencana tsunami sangat terbantu dalam menjalankan roda pemerintahan dan membangun kemabli pasilitas publik yang masih belum memadai untuk menunjang perekonomian masyarakat. Setelah adanya Dana Desa perekonomian masyarakat gampong lamnga kembali bergeliat dengan program-program pemerintah gampong yang berbasis masyarakat melalui program padat karya tunai, pemberian modal usaha melalui program simpan pinjam (PNPM), Bantuan Langsung Tunai Dana Desa (BLT-DD) dan Program Ketahanan Pangan. Kata-kata Lamnga mempunyai dua suku kata, diantaranya Lam dan NGA, yang menurut bahasa Aceh adalah : Lam artinya didalam sebagai tempat tinggal yang ada batang pohon tinggi besar (NGA) yang dijadikan sebagai kata sandang untuk menunjukan sebuah makna dari kata-kata tersebut. Seiring dengan perjalanan waktu dan perkembangan zaman lamnga telah mengalami banyak perubahan baik dari sektor tata ruang dan perkembangan populasi penduduk, dulunya populasi penduduk gampong lamnga didominasi oleh penduduk tempatan dan beberapa pendatang, seiring dengan kebijakan pemerintah dalam program perumahan rakyat, penduduk gampong lamnga bertambah secara signifikan seiring dibangunnya perumahan oleh Diveloper Hadrah Grub pada tahun 2024 didusun dibakme yang berbatasan langsung dengan gampong lam ujong kecamatan Baitussalam kabupaten aceh besar.